Segala hal memerlukan ruang untuk menjadi lebih baik. Atau hanya sekadar menyimpan jejak yang tertinggal di masa lalu
Senin, 15 Maret 2021
3 Waktu Yang Tepat Mencabut Gigi Susu Anak
Minggu, 14 Maret 2021
Jangan Takut Cabut Gigi di Puskesmas
![]() | |||
| Peralatan di Poli Gigi cukup lengkap |
Wacana cabut gigi ini sebetulnya sudah lama saya rencanakan, hanya saja
terkendala waktu dan kesibukan, jadi tertunda terus. Pasca lebaran
kemarin Arsyad mengeluhkan giginya yang goyang. Kebetulan! Ini
kesempatan yang bagus. Mumpung masih libur panjang dan jarak ke
Puskesmas tidak terlalu jauh dari rumah nenek.
Tidak terkecuali Arsyad. Ia membayangkan mencabut gigi akan menjadi proses yang mengerikan. Ditambah kakak-kakaknya yang usil menggoda, membuat Arsyad nyaris mempertahankan giginya yang goyang dan menunggu untuk lepas secara alami.
Ohoho, tentu saja saya menolak keinginannya itu. Membiarkan Arsyad berlama-lama dengan gigi goyangnya, selain membuat ia kesulitan ketika makan, juga tidak akan memberinya pengalaman dan pemahaman baru. Selamanya ia akan ketakutan saat mengalami gigi goyang.
Bukan hanya Arsyad yang harus ke dokter gigi, Zidna sudah ribut sejak lama minta dicabut gigi-gigi susunya yang menghitam. Rabbani juga perlu dicabut gigi susunya karena terjadi penumpukan. Sementara Rofa meminta giginya ditambal.
Jadi, pagi itu kami pergi berbondong-bondong menuju Puskesmas. Cara paling praktis untuk menangani kasus cabut gigi anak-anak.
Mengapa Memilih Cabut Gigi di Puskesmas?
Sejarahnya cukup panjang, Mom. Bermula sejak puluhan tahun silam. Semasa saya masih menjadi kanak-kanak. Mencabut gigi di Puskesmas menjadi pilihan yang paling memungkinkan. Selain letaknya cukup dekat dari rumah ibu saya, juga karena pelayanannya cukup baik.
Pengalaman puluhan tahun silam itu ternyata membekas. Saya memilih puskesmas yang sama untuk mencabut gigi anak-anak. Yaitu di Puskesmas Cetarip Barat Bandung. Lama tak berkunjung ke sana, pelayanan puskesmas ternyata mengalami perkembangan luar biasa. Hal ini membuat saya "sedikit" takjub.
Jika dulu pelayanan puskesmas sederhana saja, kini puskesmas ini tak kalah dengan pelayanan di rumah sakit swasta kelas menengah. Tidak lagi menggunakan kartu antrian. Mendaftar sudah menggunakan layar sentuh,ya, Gaes. (Karena saya terlihat katrok, seorang petugas jaga membantu saya mengambil kartu antrian. hihihi)
Setelah mendapat kartu antrian, kami mengantri untuk mendaftar di poli gigi. Tak berapa saya pun dipanggil. Ah, ya ini pendaftaran perdana kami. Tentu banyak data yang harus diisi. Menariknya, pendataan pun sudah canggih, Mom. Sudah menggunakan komputer layar sentuh. Menarik, kan?
![]() | |||
| Pendataan pasien sudah menggunakan komputer layar sentuh loh |
Ah, ya, berikut beberapa alasan memilih puskesmas untuk mencabut gigi anak :
1. Lokasi dekat rumah
Sebagai ibu rumah tangga yang selalu sibuk, saya tentu memilih lokasi terdekat ketika membawa anak berobat. Selain menghemat waktu, juga memudahkan perjalanan menuju lokasi "eksekusi". Nah, Puskesmas Cetarip ini jaraknya hanya 0,5 KM dari rumah di mana kami menghabiskan waktu libur. Asyik kan? Bisa sambil jalan santai.2. Murah dan ekonomis
Dimana-mana puskesmas terjamin murahnya. Pusat layanan kesehatan masyarakat ini memang ditujukan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dari berbagai kalangan. Meski tidak murahan. Hanya Rp 3.000,00 saja per pendaftar. Dan Rp 10.000,00 untuk setiap gigi susu mengalami tindakan. Obat-obatan gratis, Gaess...![]() |
| Murah |
3. Pelayanan Baik
Yup, sejak dari awal mendaftar, kami mendapat pelayanan yang baik. Petugas tidak membiarkan saya berdiri kebingungan, melainkan langsung menanyakan layanan poli yang kami inginkan dan membantu kami hingga mendapatkan kartu antrian untuk poli yang dimaksud.Pelayanan yang baik ini juga berlanjut saat pengisian data yang serba dimudahkan. Bayangkan, ketika mendaftar, saya sama sekali tidak membawa kartu identitas apa pun. Jangankan kartu peserta BPJS dan kartu keluarga, KTP pun saya lupa membawa! Tetapi saya tetap dilayani dengan ramah. Bagi saya ini ruaaarrr biasaaa....
![]() |
| Beberapa layar LCD dipasang untuk memudahkan pasien |
Begitu pula dengan dokter gigi yang melayani anak-anak. Ada dua dokter dalam ruangan poli gigi. Meski yang satu sedikit jutek, yang satu lagi sangat ramah. Hal ini mampu meredam kecemasan anak-anak, apalagi ini kali pertama anak-anak masuk ruangan poli gigi.
Arsyad yang semula grogi dan tampak ingin melarikan diri, mulai terlihat mampu menguasai diri. Tak ada drama berlebihan saat dokter memintanya untuk duduk di kursi tindakan hingga proses pencabutan gigi selesai. (Oya, karena sudah goyang dokter hanya menggunakan penyemprot untuk meradam rasa sakit, dan Arsyad tampak tabah saat giginya dicabut).
4. Peralatan Cukup Baik
Secara umum peralatan di poli gigi ini cukup lengkap. Bisalah untuk mencabut gigi dengan kasus sederhana. Seperti mencabut gigi susu atau pun gigi seri dengan kasus sederhana.( Akan tetapi, untuk menangani kasus-kasus tertentu seperti gigi geraham atau bedah gigi, saya tidak menyarankan. Ini tentu memerlukan penanganan dan peralatan dengan lebih serius. Mintalah rujukan dari puskesmas untuk mendapatkan pelayanan pengobatan di rumah sakit besar yang memiliki peralatan jauh lebih lengkap).
![]() | |||
| Peralatan di Poli Gigi cukup lengkap |
Itu beberapa alasan saya memilih mencabut gigi anak-anak di puskesmas. Oya, untuk informasi tambahan puskesmas melayani berbagai macam bantuan kesehatan seperti umumnya di rumah sakit besar. Nah, bagaimana kondisi puskesmas di daerahmu?
Kejadian-kejadian Unik Bersama Si Kecil : Keracunan Es Krim!
Kisah Inspiratif : Waspadai Pasca Melahirkan - Ketika Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) Menyapa
Ketika Orang Terkasih Menjadi Penyitas Penyakit Autoimun Hipokalemia
Apa boleh buat, liburan kali ini ternyata harus kami lewati di rumah
saja. Diawali dengan demam tinggi yang menyerang Arsyad, dan diakhiri
dengan sakit dialami suami saya akibat kekurangan kalium yang
menyebabkan tubuhnya mengalami kelumpuhan total yang bersifat sementara (periodical paralysis)
Antara sedih dan lucu melihatnya.
Bayangkan, untuk membalikkan telapak tangan saja ia memerlukan perjuangan besar. Apalagi menggaruk bagian tubuh yang terasa gatal--itu pasti menjadi sebuah kemewahan baginya.
Lucu, karena biasanya upaya itu berujung pada kesia-siaan dan berakhir pada ucapan memelas : "tolong dong garukin kening sebelah kiri."
Kondisi ini tidak terlalu mengejutkan bagi saya sekarang, meski tetap khawatir. Namun setidaknya pengalaman mendampingi suami yang memiliki penyakit unik membuat saya lebih tangguh daripada 7 tahun silam.
Kisah Inspiratif, Titi Dwi Maesaroh : Menjemput Takdir di Tanah Papua
Dalam sebuah kesempatan, saya mendapat kehormatan untuk menuliskan kisah
inspiratif mahasiswa berprestasi dari Universitas Ahmad Dahlan,
Yogyakarta. Saya masih mengingat dengan baik, betapa haru dan kagum
menyelimuti diri, saat mencoba menuliskan jejak-jejak prestasi mereka.
Prestasi yang mereka torehkan dengan kesungguhan dan menjadi persembahan
terindah. Bukan hanya bagi diri dan keluarga, melainkan bagi bangsa dan
negara.
Kisah Inspiratif, Storycake for Your Life - Berpikir Positif : Allah Maha Kaya
Menjalani hidup merupakan perjuangan tiada henti. Kita akan senantiasa
berhadapan dengan gelombang dan badai masalah yang datang silih
berganti. Ada kalanya kita bisa begitu tangguh, namun seringkali kita
pun runtuh.
Hanya dengan menggenggam keyakinan, senantiasa berpikir positif, kita
akan melewati rintangan demi rintangan. Kemustahilan demi kemustahilan.
Tersebab, Allah Maha Kaya....
Yuk, Kenali ITP Pada Anak
ITP Pada Anak, Yuk kenali gejalanya (dokpri) ITP, Ideopathic Thrombocytopenic Purpura, merupakan salah satu jenis autoimun yang bisa muncul...
-
Museum Geologi Bandung, wisata edukasi murah meriah (dok.pri) Liburan paling asyik jika diisi dengan acara jalan-jalan bareng keluarga. Ngg...
-
Sri Chandra Nurlaili, Bangkitkan Asa Dhuafa dengan Sedekah Seribu Sehari (Foto : IG Sri Chandra Sri Chandra Nurlaili, perempuan asal S...
-
Pentingnya pengasuhan anak agar cerdas bergame online (Foto : Pixabay) Dear Mom, pusing nggak sih melihat anak-anak nge-game online melulu...









